Selasa, 06 Maret 2012

5 Kelebihan Donor Darah


Simbiosis mutualisme. Itulah yang akan kita rasakan jika kita melakukan donor darah, sebab setiap tetes darah yang kita sumbangkan tidak hanya dapat memberikan kesempatan hidup bagi yang menerima tetapi juga memberikan manfaat kesehatan bagi pendonornya.

Anggapan yang menyatakan mendonorkan darah bisa membuat kita menjadi lemas adalah salah. Saat kita mendonorkan darah, maka tubuh akan bereaksi langsung dengan membuat penggantinya. Jadi, kita tidak akan mengalami kekurangan darah. Selain membuat tubuh memproduksi darah-darah baru, ada lima manfaat kesehatan lain yang bisa kita rasakan:

1. Menjaga kesehatan jantung
Tingginya kadar zat besi dalam darah akan membuat seseorang menjadi lebih rentan terhadap penyakit jantung. Zat besi yang berlebihan di dalam darah bisa menyebabkan oksidasi kolesterol. Produk oksidasi tersebut akan menumpuk pada dinding arteri dan ini sama dengan memperbesar peluang terkena serangan jantung dan stroke. Saat kita rutin mendonorkan darah maka jumlah zat besi dalam darah bisa lebih stabil. Ini artinya menurunkan risiko penyakit jantung.

2. Meningkatkan produksi sel darah merah
Donor darah juga akan membantu tubuh mengurangi jumlah sel darah merah dalam darah. Tak perlu panik dengan berkurangnya sel darah merah, karena sumsum tulang belakang akan segera mengisi ulang sel darah merah yang telah hilang. Hasilnya, sebagai pendonor kita akan mendapatkan pasokan darah baru setiap kali kita mendonorkan darah. Oleh karena itu, donor darah menjadi langkah yang baik untuk menstimulasi pembuatan darah baru.

3. Membantu penurunan berat tubuh
Menjadi donor darah adalah salah satu metode diet dan pembakaran kalori yang ampuh. Sebab dengan memberikan sekitar 450 ml darah, akan membantu proses pembakaran kalori kira-kira 650 kalori. Itu adalah jumlah kalori yang banyak untuk membuat pinggang kita ramping.

4. Mendapatkan kesehatan psikologis
Menyumbangkan hal yang tidak ternilai harganya kepada yang membutuhkan akan membuat kita merasakan kepuasan psikologis. Sebuah penelitian menemukan, orang usia lanjut yang rutin menjadi pendonor darah akan merasakan tetap berenergi dan bugar.

5. Mendeteksi penyakit serius
Setiap kali kita ingin mendonorkan darah, prosedur standarnya adalah darah kita akan diperiksa dari berbagai macam penyakit seperti HIV, hepatitis B, hepatitis C, sifilis, dan malaria. Bagi yang menerima donor darah, ini adalah informasi penting untuk mengantisipasi penularan penyakit melalui transfusi darah. Sedangkan untuk kita, ini adalah “rambu peringatan” yang baik agar kita lebih perhatian terhadap kondisi kesehatan kita sendiri.

Setelah menginjak usia 17 tahun, cobalah untuk membiasakan diri mendonorkan darah setiap tiga bulan sekali. Tidak hanya akan memberikan perasaan yang senang karena dapat membantu sesama, namun bermanfaat positif bagi kesehatan tubuh kita sendiri. Dan usia maksimal untuk melakukan kebiasaan baik ini adalah hingga berusia 65 tahun. Jadi jangan tunggu lama lagi, ayo… saatnya donor darah!

Over Clock Pada Komputer

Meningkatkan kinerja komputer

PERINGATAN!!!

Sebelum sobat mengikuti langkah-langkah overclock dibawah ini. Sobat harus sadar bahwa proses overclock bisa menyebabkan processor terbakar, motherboard rusak, garansi hilang, memperpendek umur CPU, merusak Windows, dan akan menjebol ATM sobat, karena dipakai untuk mengganti komponen yang rusak sengihnampakgigi. Dengan membaca dan mengikuti langkah-langkah ini, sobat bertanggung jawab sendiri seandainya terjadi kerusakan pada hardware. Oleh karena itu, pahami terlebih dahulu hardware yang sobat pergunakan dengan cara membaca buku manualnya secara tuntas.

Menentukan Clock Speed dan Voltase

Jika sobat penasaran bagaimana sebuah clock speed ditentukan, jawabannya sederhana: clock speed standar sudah tertanam di dalam CPU dan dapat dikalkulasi dengan perhitungan sederhana.

Angka pertama yang harus sobat ketahui adalah kecepatan FSB (Font Side Bus). FSB adalah jalur yang membawa semua informasi dari CPU dan semua perangkat lain. Kecepatannya dihitung dalam satuan megahertz. Angka kedua adalah multiplier atau penggali, yaitu pengaturan internal yang telah ditetapkan oleh si pembuat processor.

Agar kita dapat mengetahui berapa clock speed sebuah processor, tinggal kalikan saja FSB dengan multiplier. Disini kami menggunakan sebuah program bernama CPU-Z yang bisa sobat download disini.


Silahkan sobat lihat di bagian Multiplier dan Bus Speed. Hasilnya ada di bagian Core Speed, itulah kecepatan processor kita sekarang.

Berikutnya mengenai voltase processor atau yang dikenal dengan Vcore. Semua processor dirancang untuk bekerja pada voltase tertentu, meningkatkan voltase merupakan bagian yang paling bahaya dalam proses overclock. Meningkatkan voltase CPU hanya boleh 10% dari voltase standarnya, lebih dari 10% silahkan tanggung resikonya sendiri.

Untuk melihat Vcore yang dimiliki, sobat bisa kembali memakai CPU-Z. Lihat pada bagian Voltage.

Langkah Overclock

Salah satu unsur yang bisa dioptimalkan dalam overclock adalah dari BIOS.
  1. Masuk ke BIOS dengan menekan tombol Delete, F1, atau F2 tergantung dari jenis motherboard yang dimiliki. Namun jika ada splash screen atau logo yang menghalangi saat booting, sobat dapat menekan tombol Esc atau Tab untuk melihat tombol mana yang harus digunakan untuk masuk ke dalam BIOS.
  2. Setelah sobat masuk ke BIOS, carilah menu yang berisi informasi mengenai konfigurasi CPU. Tiap motherboard dan BIOS memiliki nama sendiri-sendiri, namanya berupa Softmenu, CPU Configuration, Advanced Chipset Features, Frequency Control atau lainnya. Kemudian cari juga item bernama FSB speed, CPU-to-FSB ratio, CPU External Frequency, FSB Frequency, CPU Bus Clock, External Clock dan lain-lain tergantung jenis BIOS. Sebagai informasi, FSB pada CPU jenis terbaru biasanya memiliki nilai default 200 MHz.
  3. Menaikkan nilai FSB adalah cara yang paling umum untuk overclock. Naikkan FSB itu dengan tahapan 1 MHz atau 3 MHz, jangan terlalu serakah dalam menaikkan FSB sampai 5 MHz sekaligus atau bahkan 10MHz sekaligus, bisa-bisa PC sobat malah tidak mau melakukan booting.
  4. Setelah FSB sobat naikkan dari 200MHz menjadi 201 MHz atau 203 MHz, simpan setting BIOS lalu keluar dari BIOS dan lihat apakah PC berhasil melakukan booting.
  5. Jika booting berhasil, berarti sobat berada pada jalan yang benar, namun jangan terlalu senang dulu. Biarkan hingga masuk ke Windows dan jalankan beberapa aplikasi atau bermain game. Hal ini dilakukan untuk melihat bagaimana system bereaksi dengan peningkatan FSB tersebut.
  6. Jika tidak ada masalah, restart kembali PC dan ulangi langkah 3 hingga langkah 5 sampai PC sobat tidak mau melakukan booting.
  7. Bagaimana apabila terjadi masalah, atau sobat terlalu serakah menaikkan FSB sehingga PC tidak mau melakukan booting, layar kosong dan tidak keluar apapun. Jangan khawatir sobat, silahkan sobat buka buku manual motherboard dan cari dimana letak jumper untuk reset CMOS. Jumper tersebut umumnya berada di dekat CMOS.
  8. Bila semua proses overclock sukses dilakukan, namun sobat masih menginginkan performa yang lebih, masih ada dua cara. Cara pertama adalah dengan menambah pendingin processor yang lebih baik, karena pendingin yang baik bisa meningkatkan potensi overclock CPU.
  9. Cara kedua adalah dengan cara meningkatkan Vcore CPU. Dalam BIOS, Vcore ini memiliki nama yang berbeda-beda, ada Processor Voltage, CPU Voltage Control, CPU Voltage Select dan lain-lain. Sama seperti proses meningkatkan FSB, menaikkan voltase ini harus dilakukan secara bertahap dan tidak boleh serakah. Bila FSB berlebih, paling-paling system tidak bisa melakukan booting, tetapi beda halnya dengan menaikkan voltase secara berlebih, processor bisa terbakar. Dan ingat pula peraturan paling penting dalam menaikkan voltase, hanya 10% dari nilai voltase defaultnya.